Tampilkan postingan dengan label Antalogi Puisi Untuk Sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antalogi Puisi Untuk Sahabat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2025

TANPA JUDUL

Saat waktu berlalu tampa dibatasi ruang.
Semua berubah dan berganti.
Tak mudah melewati semuanya.
Ada suka ada duka.
Banyak kenangan yang tersisa.
Tapi tak banyak yang dapat aku lakukan.
Hanya membuat onggokan dosa yang tak terhitung.
Semakan jauh ku melangkah.
Semakin banyak yang tak ku tau tentang dunia ini.

Jalan yang ku tempuh tak terarah.
Berputar tak henti.
Mengikuti arus dunua yang makin gila.
Tak ada lagi yang tersisa dihati.
Hanya kebekuan dan kehampaan.

Amarah menepi ke ujung jari.
Merampas ketenangan yang sebelumnya ada.
Semua makin semu.
Makin hilang di telan kabut petang.
Kini hati tinggal sendiri dalam relung sepi.
Mengais ngais mencoba kumpulkan kembali serpihan kehiduhan yang telah hilang.
Angkuh sang waktu membuat tangan bergetar.
Serasa tak sanggup lagi lewati semua yang ada.

Ku rindu akan cahaya.
Sejujurnya aku benci rasa ini.
Ingin menatap wajahnya.
Tapi aku tak mengerti.
Kenapa ia tak ingin menatapku.
Kan aku juga sebenarnya tak ingin lagi merindukannya.
Karna aku takut ganasnya sinar mentari.
Adakah cara untuk hentikan rindu ini ???
Selain berjumpa dengannya ....?

»»  READMORE...

Sabtu, 14 Desember 2024

ASAL KATA

Disini di batasi segala arah.
Kutemukan satu makana tak terungkapkan.
Semua yang tersurat, tersirat tak terabaikan.
Walaupun hanya sekecil atom yang tersembunyi.

Tiupan angin meliuk menerpa dedaunan.
Hembuskan lara isaratkan sepi.
Dingin dan bekunya malam tampa bintang.
Rembulan yang redup tertutup awan.
Terbawa kedalam anganku, mengalir ke ujung pena berbuah kata kata.
Sebagai karya penuturan hati, tak indah memang, tapi apa adanya.

Semua yang ada hanya kehampaan belaka.
Laksana kata-kata semuanya akan sirna jika sang empunya berkehendak.
Ku sadari diri ini hanya jiwa hina yang ternoda kemunafikan dunia.
Ku ingin temukan jalan kesucian yang kan membawa pada kedamaian;
Yang kan membawa pada ketentraman;
Yang kan membawa pada ketenangan;
Yang kan membawa pada kebahagiaan dan keindahan.
»»  READMORE...

Minggu, 01 Desember 2024

ENGGAN

Melangkah melewati harunya kehidupan.
Suka duka membuat jutaan nista.
Dalam kebohongan semua menepi.
Merakit mimpi yang tak sesuai dengan jati diri.
Terlukai lidah sendiri.

Terlihat indah semua yang di sodorkan sang hayat.
Mempesona dan menggiurkan.
Membuat hati jenuh dan akal berfikir pendek.
Mencoba dengan segala cara.
Untuk dapatkan apa saja.

Ingin memperbaiki keadaan yang ada.
Namun daya tak kuasa.
Hanya bisa menatap dan biarkan semua berlalu.

Saat mentari menari tersenyum menyapa bumi.
Aku berfikir itu palsu.
Karena tampa disadari ada mendung.
Karena tampa disadari ada hujan.

Biarkan hanya dalam kegelapan.
Tak ada yang bisa tau.
Tak ada yang bisa berubah.
Karena aku enggan untuk tau tentang hidup.
Karena aku enggan untuk mengerti hidup.

Jika ada sesuatu maka akan ada sesuatu.
Lebih baik tak ada sesuatu dan tak kan ada yang baru.
Aku enggan mecampuri yang ada.
Karena akan merusak yang telah ada.

»»  READMORE...

Selasa, 26 November 2024

KU TUNGGU KERETA PAGI

Tersudut dalam sepi menyeret jiwa padanya sunyi.
Aku coba angkat kaki mencari relasi.
Hanya ada basa basi.
Coba angkat bicara hanya jadi bualan saja.
Di tepian hayat ini, tegarkan hati untuk tegak berdiri.
Meski hanya menjadi karang berlumut.

Malam kian sepi.
Hantarkan dingin membelai setiap inci kulit.
Namun tak sesepi hati, tak se dingin jiwa.
Tak ada lagi sunyi yang tak ter-jajaki.
Tak ada lagi sepi yang tak ter-diami.
Selaksa kosong kian mambang dalam jiwa.
Di dalam hening malam.

Kereta malam telah belalu tinggalkan peronnya menuju pagi.
Aku terhenyak disini terlambat untuk kembali.
Berjalan bersama mentari kini tinggal mimpi.
Meski mimpi tak penah mampir dalam tidur.
Sudahlah.
AKu tunggu saja kereta pagi membawaku pulang.

»»  READMORE...

Senin, 25 November 2024

SEDERET AKSARA DALAM KERTAS TAK BERNYAWA

 

Saat aku beku dan renung dalam masalah.
Ku temui engkau kasih.
Sahabat sejati yang setia sampai mati.
Tak tahukah engkau kasih.
Betapa besar arti dirimu disisiku.

Saat aku renung dalam dukaku.
Ku temui engkau kasih.
Perlipur dalam lara tak terkira.
Tak tahukah engkau kasih.
Nafasmu adalah nyawa bagiku.

Saat aku renung dalam laraku.
Ku temui engkau kasih.
Dengarkan keluhku yang resah.
Tak tahukah engkau kasih.
Langkahmu penuntun arahku.

Sederet aksara dalam lembar tak bernyawa.
Bagi mereka engkau bukanlah apa apa.
Hanya coretan yang siap dibuang kapan saja.
Bagiku engkau arti hadirku.
Bagiku engkau nyawaku.
Bagiku engkau arahku.

Meski diam dalam heningmu.
Suara jejak kalam itu indah ditelingaku.
Menuntunku membuang ragu.
Sisihkan gundah dan resah dari nurani.
»»  READMORE...

Sabtu, 23 November 2024

Sebungkus Kenangan

Awal ku buka mata di pagi hari.
Belum cukup kesadaranku kembali.
Ku kembali teringat padamu.
Seperti hari sebelumnya.
Entah kenapa aku tak bisa untuk lupakan mu.

Andai saja bisa ingin ku hapus semua rasa ini dari dalam hati.
Namun mustahil itu kan terjadi.
Kecuali ada dua perkara.
Lupa Ingatan atau mati.

Walaupun hari berganti dan musimpun berubah.
Bayangan dirimu tak bergeser sedikitpun dai posisi semula.
Jauh disana di lubuk hati yang paling dalam.
Ku simpan rasa cinta.
Untuk seorang wanita.
Yang tak pernah membuka hatinya untuk menerima ku apa adanya.

Mungkin jika aku tetap bertahan tak kan pernah ku rasakan indahnya di cintai.
Biarlah ku jalaniapa yang terjadi ini.
Dan kan ku simpan anugrah ini dalam kemasan indah yang bernama kenangan.

»»  READMORE...

Jeritan Hati Sang Pujangga II

Hening, hampa, sunyi itu yang ku rasa kini.
Bulan dan bintang kini telah pergi.
Hanya tinggal aku sendiri berteman sepi.

Dalam hati ku keluhkan mimpi yang hingga kini hanya tetap menjadi mimpi.
Tak lagi ku berharap mimpi jadi kenyataan.
Biarlah hanya ada aku dan bias sang sepi.

Meraut nada nada sumbang tentang keindahan.
Memeluk sair sair sendu tentang keindahan.

Kini aku tlah lelah lewati waktu yang tak lagi pedulikan aku.
»»  READMORE...

Rabu, 20 November 2024

Jeritan Hati Sang Pujangga

Sehangat pelukmu.
Selembut kecupmu.
Sesejuk tatapanmu.
Secantik wajahmu.
Semanis senyummu.
Seindah matamu.
Seangun langkahmu.

Hangatnya mentari takkan lunturkanmu.
Lembutkannya kapas takka lemahkanmu.
Sejuknya angin takkan mengalahkanmu.
Cantiknya permata takkan sebanding denganmu.
Manisnya gula takkan pudarkanmu.
Indahnya pelangi takkan tandingimu.
Anggunya bidadari takkan menghapusmu.

Hasrat hati ingin bertemu.
Keinginanmembuat aku rindu.
Angan melayang tertuju padamu.
Mimpi-mimpiku hanya tentangmu.
Asaku meninggikan dirimu.
Harapan tak henti mengenangmu.

Terpisah jauh ruang dan waktu.
Hamparan membuat tak bisa bertemu.
Sepingisi kalbuku.
Hari-hari berlalu kelabu.
Hampa merasuk gundahkanku.
»»  READMORE...

Puisi Untuk Sahabat II

Ku temukan kau sedang menari di ujung pagi.
Meliuk indah dam angkuh sekali.
Bersama sang hasrat yang temani.
Kau tak terbendung lagi.
Nurani tersudut di relung hati.

Kau begitu binal.
Bebas berkhayal.
Hingga kau lupa pada sang ajal.
Yang begitu dekat tapi tak kau hiraukan.
Bersama embun pagi kau sirna ditelan mentari yang kian tinggi.
Sang hayat kian renta untuk bisa melindungi.
Hanya tinggal nistayang tak mungkin terobati.

Kawan ini bukan hanya bualan.
Seutas peringatan untuk kau renungkan.
Daun mu masih muda tak seharusnya kau sia-siakan demi setetes embun pagi yang tak berarti.
Mungkin akamu masih rapuh.
Tapi bingkailah dengan kawat berduri.
Jadilah mawar yang tanguh.
Tetaplah mekar hingga satu persatu kelopakmu gugur.
»»  READMORE...

Puisi Untuk Sahabat

Sekarang aku berjalan disini sendiri.
Mengiri mentari yang kian beranjak pergi.
Kutatap senja merah indah yang sepi.
Guratan seraut wajah letih terkenang di hati.
Senandung lagu lirih mengiringi.
Setiap untaian kata terucap.
Ku sandarkan anganku diantara berjuta mimpi.
Mencari secercah harapan masa depa.
Aku mengerti.
Tak pantas aku menangis untuk kesalahan masa lalu.
Harusnya aku jadikan pelajaran apa yang telah terjadi itu.
Kau menunggu datang malam.
Menanti pagi dengan harapan besar yagn ku genggam.
Aku yakin disana, di masa depan ada ketentraman.
Pilihan banyak.
Maka akan ku pilih yang terbaik dari yang terbaik...
»»  READMORE...

Senin, 10 September 2012

Tamparan Sahabatku

Ah, 
Dalam diam ini tak ada yang bisa aku lakukan.
Hanya waktu yang berlalu tak tentu.
Segenggam asaku yang dulu membara.
Kini berangsur pudar.
Hanya secercah semangatmu kawan.
Sentiasa mengiringi getirku.
Membakar darah ini untuk terus melangkah.

Merikan setetes embun dalam gersangku.

Aksara ini pertanda.
Sejatinya keakraban ini.
Bukan sekedar bualan atau bait bait kosong.
Keyakinan dan ketegaranmu adalah teladan.

Kawan.
Maafkan aku.
Yang sejenak pernah melupakanmu.
Tersadarku mendengar teriakan itu.
Lantang.
Berdirilah, berlarilah, melompat.
»»  READMORE...

Senin, 06 Agustus 2012

Untuk Dirinya


Rentang ini sepi.
Indah secerah mentari.
Bara gerlora jiwa ini.
Membara membakar hati.
Ada banyak rasa terlewati.
Suka cita dalam prahara.
Dilema cinta segi tiga.

Tersenyumlah dengan sumpah serapahmu.
Melanglangbuana membelah langit biru.

Sandarkan kepala dalam pangkuan mimpi. 
Memeluk erat khayalan yang tak pasti. 
Anganku masih melayang jauh padanya. 
Entah apa yang terjadi, 
Bayangannya kembali melintas dalam ingatanku.
Tampa ku sadari airmata ini mengalir begitu saja. 
Entah apa yang membuatku enggan untuk percaya dia telah pergi. 

Hai angin senandungkanlah lagu itu.
Irama tentang dirinya yg tlah berlalu.
Nestapa di hatiku tak henti mengundang rindu.
Meski waktu bergulir membuang ragu.
Masih jelas bagiku rona wajah itu.
Tentangmu yang kurindu.
Tersenyumlah dalam mimpiku.
 

Terkdang keadaan menyudutkan.
Membatu & bisu dalam tahtanya.
Tak kuasa tuk melawan.
Biarkan berlalu apa adanya.
Setetes embun tak mungkn jadi lautan.

Meski samudra mengering skalipun.
Aku tetaplah diriku dalam kesunyian.

Dalam sepi tersepi paling sepi.
Aku menetap dalam gelap tergelap paling gelap.
Tepikan kesendirian disisi sunyi.
Gerbang hatiku yg berdebu kian krontang.
Sejenak ku lupa seperti apa luka.
Membuat ku tak mengerti rasa.
Bbiar sejenak ku nikmati indahnya rembulan.
»»  READMORE...

Minggu, 05 Agustus 2012

REMBULANKU YANG SENDU

Rembulanku yang sendu.
Menati bintang datang temani malam.
Kini sepi berpendar mengisi sunyi.

Rembulanku yang sendu.
Menanti pagi.
Menunggu lantangnya ayam jantan bernyanyi.

Rembulanku yang sendu.
Disisi hening ini aku mengerti.
Tak sepenuhnya kau bisa ku miliki.
Hanya redup cahayamu yang bisa ku nikmati.
Menuntun juang merenggut asa.

Rembulanku yang sendu.
Menangislah bila perlu.
Biarkan semua duka berlalu. 

Rembulabku yang sendu.
Aku kan selalu menunggumu.
Tuk nikmati bias cahayamu.
»»  READMORE...

Segelas Kopi Untuk Pelukis Mimpi.

Air mata.
Apakah sebening embun.
Atau hanya senjata yang mematikan.
Sudutkan setiap keadaan dalam kemunafikan.

Embun.
Apakah sebening mutiara.
Atau hanya keangkuhan yang berjalan lembut.
Belenggu segala kejujuran untuk diam.

Mutiara.
Apakah itu suci.
Sesuci nurani seorang bayi.
Atau hanya hati yang membatu karna cinta.
Membusuk dalam durjana sang angkara.

Tak ada yang sejujur segelas kopi.
Hitam legam dan pahit.
Tak munafik dan angkuh.
Tegas dan bisa di percaya.
Segelas kopi.
Untuk obat hati pelukis mimpi.
»»  READMORE...